Rabu, 19 November 2014

Step by Step Kuliah S2 di Jepang

Serius mau kuliah di Jepang? Kenapa? Gimana?, mungkin tulisan berikut ini bisa sedikit membantu mengurai benang kusut yang ada di pikiran kalian. Tapi, tolong jangan dipahami mentah-mentah ya, karena boleh jadi pengalamanmu kelak akan sangat berbeda dengan apa yang saya alami.


1. Luruskan Niat, Tancapkan Tekad, Tetapkan Tujuan
Ini penting, penting, penting, 1000x penting. Apa tujuanmu melanjutkan studi ke jenjang master? jika hanya untuk gelar, maka merugilah dirimu kawan. Hidup di negeri asing tidak mudah dan banyak dinamikanya, jika dari awal sudah tidak mantap, kedepannya mungkin akan sulit bertahan, apalagi jika jalurnya tidak biasa seperti saya. Jika niatnya hanya untuk terlihat keren, sebaiknya diurungkan saja, karena ilmu bukan untuk keren-kerenan, dan yang seperti ini hanya akan membuat kita mudah untuk sombong dan ilmunya jadi tidak berkah. Memang kuliah di luar negeri memiliki prestisi tersendiri, dan fasilitasnya terutama di negara maju seperti Jepang ini tidak perlu diragukan lagi, tapi alangkah baiknya jika kamu memiliki alasan pokok dan visi jangka panjang yang bermanfaat. Misalnya, saya pribadi memilih kuliah di luar negeri bukan karena didalam negeri tidak ada kampus yang baik, kampus yang baik yang memiliki profesor-profesor hebat ada banyak, tapi bagi disiplin ilmu saya yaitu arsitektur dan tata  kota, merasakan langsung adalah penting, semua tentang 'sense' yang ditangkap mata yang kemudian dituangkan dalam ide berbeda jika punya 'experience'-nya. Mau merancang kota modern tapi tidak pernah merasakan hidup sehari-hari di sebuah kota modern dengan perencanaan yang baik, rasanya akan kurang afdhol. Itu pendapat saya pribadi. Silahkan teman-teman mencari sendiri alasan kuat, bahkan penting untuk merunut daftarnya supaya kita tidak mengikuti keinginan buta.

2. Lakukan 1 langkah awal 
Setelah niat yang lurus dan tujuan yang jelas, maka lakukanlah 'SATU' langkah awal. Melangkahlah, bergeraklah maju, seperti mulai mengurus administrasi; tes TOEFL, translate ijazah; minta rekomendasi profesor di kampus asal. Jangan dikira ini mudah. Dulu saya harus rela menggunakan jam istirahat kantor untuk ke kampus mengurus berkas-berkas, menyisihkan gaji untuk bisa tes TOEFL, dan mencari-cari profesor yang bisa memberi saya rekomendasi. Kadang-kadang saya mendengar teman yang mengatakan dengan lantang impiannya untuk kuliah di luar negeri, tapi hal-hal diatas sama sekali belum dilakukan, padahal kelengkapan berkas ini itu pasti akan diminta. Ketika sudah bertekad mewujudkan sebuah mimpi, bukankah kita harus bersusah-susah dahulu?

3. Perjelas Arah Riset 
Penting untuk mengenali sendiri minat risetmu karena kuliah di Jepang meskipun tidak benar-benar bertuliskan 'by research' tapi risetlah yang utama. Setiap mahasiswa sebelum ujian masuk sudah harus memiliki 'kenkyushitsu' (Lab.) tujuan, Memperjelas arah riset juga akan membantumu membangun 'love what you do, do what you love'. Riset bukanlah pekerjaan sebentar, sehingga terkadang rasa bosan akan hinggap, tapi jika kamu punya passion di bidang tersebut semuanya akan jadi lebih menyenangkan, Sebagai contoh, Arsitektur terbagi atas beberapa sub ilmu; interior, konstruksi bangunan, theory and history, kenyamanan termal/utilitas/akustik/environment, arsitektur kota, permukiman, dan behavioral. Di universitas-universitas di Jepang, labnya terbagi atas susunan-susunan seperti ini, jadi kita bisa melihat mana yang paling sesuai dengan minat kita.

4. Cari Profesor 
Mencari profesor bukanlah pekerjaan mudah. Dari beberapa blog yang saya baca sebelum memulai pencarian profesor saya sendiri, ada banyak cerita-cerita menarik. Intinya jangan berpikir bahwa semua orang Jepang mempunyai karakter yang sama (ya iyalah). Telusuri dan buka website kampus yang kamu minati, biasanya kampus dengan ranking yang baik memiliki researcher database yang mudah diakses dan lengkap. Lihat 'research interest' profesornya, dan jika sesuai dengan arah risetmu catat alamat emailnya dan mulailah menghubungi beliau via email. Dalam email cukup perkenalkan diri, apa aktivitas sekarang, dan sedikit penjelasan tentang rencana riset. Jangan lupa gunakan bahasa yang baik dan sopan dan jangan terlalu panjang. Profesor-profesor di Jepang adalah orang yang super sibuk, jika emailmu sangat panjang dan tidak to the point, bisa saja mereka tidak berminat membacanya.  Untuk contoh suratnya bisa di search di Google, sudah banyak rekan-rekan yang menuliskan pengalaman mereka soal mengemail profesor. Tunggu balasan dengan sabar, jika sudah ada balasan upayakan selalu menjaga hubungan baik dengan beliau. Saya pribadi mencari profesor dari universitas di ujung utara Jepang hingga ke ujung selatannya. Dari lebih 30 email yang terkirim, yang merespon tidak lebih dari 7, dan jumlah itu kemudian menyusut hingga kita menemukan 1 yang paling sesuai.

5. Ikuti Prosedur Kampus Tujuan 
Setelah berkomunikasi lebih lanjut dengan profesor, ikuti arahan beliau. Beberapa kampus di Jepang mengharuskan ujian masuk meskipun sudah mendapatkan LoA dari calon profesor. Tiap kampus juga kadang menawarkan paket program yang tidak sama, terkadang kita harus berulang kali surat menyurat dengan kampus. Keadaan ini tentu berbeda bagi mereka yang mendapatkan beasiswa lebih dulu ketimbang Letter of Acceptance dari universitas atau profesor. Kabar baiknya, pelayanan administrasi di kampus-kampus di Jepang sangat terbuka dan solutif. Jika menemukan kendala terkait pengisian dokumen dan lain-lain, tenang saja, cukup email dan bertanya, mereka akan dengan cepat membalas.

6. Rajin Membaca, Rajin Bertanya 
Tidak seperti dulu, sekarang ini sudah banyak orang yang bisa kuliah di luar negeri. Di Jepang sendiri hampir setiap universitas ada mahasiswa Indonesianya, cari kontak mereka dan bertanyalah jika ada yang kurang dipahami, mereka akan dengan senang membantu. Pun sekarang teknologi sudah semakin canggih, 'mbah' Google bisa diandalkan untuk mencari informasi yang diperlukan. Berusahalah. Jika mau, maka harus bersungguh-sungguh.

7. Siapkan Mental 
Bagi sebagian orang, bisa kuliah di luar negeri adalah sebuah impian. Harga dari impian kita sendirilah yang menentukan, apakah kita bekerja keras untuk mewujudkannya atau hanya sekedar mengangan-angankannya. Jika sekali atau dua kali gagal, jangan terlalu sedih. Coba lagi dan belajarlah bersabar dengan prosesnya.  Bukankah setiap kegagalan akan mengantarkan kita lebih dekat pada kesuksesan? kuncinya jangan menyerah, benar-benar jangan menyerah.

>>bersambung ke Part 2, insya Allah...

7 komentar:

  1. Menarik nih,

    salam visit www.pritowindiarto.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Subhaanallaah. Pengen seperti itu. Tapi blm tau apa yang saya bisa. dan Keterbatasan biaya pula.

    BalasHapus
  3. assalamualaikum isti, dah lama gak ketemu....Insya allah kalo dah selesai S2 di Makassar saya atau suami mau lanjut S3 di Jepang...doakan semoga bisa lanjut disana...dari sahabat lamamu, Nurul Hardiyanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaykumsalam warahmatullah
      senangnya dapat kunjungan dr teman, semoga berhasil utk studinya!!

      Hapus
  4. makasih sharing sharing nya mbak

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum mbak saya ingin bertanya, apakah lebih baik apply dahulu lalu menghubungi profesor atau menghubungi profesor lalu jika sdh diterima kita apply?

    BalasHapus